Makna Leksikal dalam Satuan Lingual pada Tari Tayub di Desa Jambeyan Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen: Kajian Semantik
DOI:
https://doi.org/10.62710/5y7e2a95Keywords:
Satuan Lingual; Makna Leksikal; Semantik; Tari TayubAbstract
Tari Tayub di Kabupaten Sragen memiliki nilai budaya yang mendalam. Penelitian ini dilakukan karena belum ada kajian yang secara khusus membahas satuan lingual dalam Tari Tayub dengan kajian semantik. Tarian ini memiliki satuan lingual yang merepresentasikan nilai budaya, tetapi sudah mulai ditinggalkan karena kurang diminati oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk satuan lingual dalam Tari Tayub di Kabupaten Sragen melalui kajian semantik guna mengungkap makna leksikal dan kulturalnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan semantic kultural. Data dikumpulkan melalui teknik cakap semuka, rekam, dan catat dari informan yang merupakan seniman di Kabupaten Sragen, kemudian dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian pada Tari Tayub ditemukan 45 satuan lingual yang terdiri dari 26 kata monomorfemis, 4 kata polimorfemis, dan 11 frasa. Satuan lingual tersebut diklasifikasikan menjadi empat bagian: paraga, busana, iringan, dan gerakan. Setiap satuan lingual memiliki makna leksikal dan kultural. Tari Tayub bukan hanya sekadar seni pertunjukan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang perlu dilestarikan agar tetap dikenal dan dipahami oleh generasi mendatang.
Downloads
References
Aminuddin. (1982). Semantik: Pengantar studi tentang makna. Sinar Baru.
Aprialzen, Z., Muzammil, A. R., & Syahrani, A. (2023). Leksikon budaya dalam seni tari tradisional Melayu Sambas: Kajian etnolinguistik. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 12(6), 1628-1635. https://doi.org/10.26418/jppk.v12i6.66913
Chaer, A. (2007). Leksikologi & leksikografi Indonesia. Rineka Cipta.
Chaer, A. (2014). Linguistik umum. Rineka Cipta.
Daulay, N. S., Balqis, R., Ritonga, S. F. S., & Sari, Y. (2024). Analisis makna leksikal dan makna gramatikal pada puisi Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Damono) dan implikasinya sebagai alternatif bahasa dan sastra Indonesia. Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif, 5(5), 217-225. https://ojs.co.id/1/index.php/jlpi/article/view/1231
Febriana, A., & Fateah, N. (2025). Analisis satuan lingual pada Tari Kretek di Kabupaten Kudus. Inovasi Pembangunan: Jurnal Kelitbangan, 13(1). https://jurnal.balitbangda.lampungprov.go.id/index.php/jip/article/download/973/626
Henilia, R. (2022). Pengantar linguistik umum. Penerbit Ombak.
Indriyanto, R., Laura, P. L., & Astuti, B. (2023). Semiotika dalam tari: Studi kasus Tari Dolalak. JADECS (Journal of Art, Design, Art Education & Culture Studies), 8(2), 164-176. https://doi.org/10.17977/um037v8i22023p164-176
Istiandini, W., Tindarika, R., & Sulissusiawan, A. (2022). Makna simbol properti gong pada Tari Tradisional Ngeruai Kenemiak Dayak Kantu. Jurnal Seni Tari, 11(2), 179-187. https://doi.org/10.15294/jst.v11i2.61644
Kinanti, G. (2018). Istilah-istilah dalam kesenian Dongkrek di Desa Mejayan Kabupaten Madiun (Kajian etnolinguistik). Jurnal Universitas Sebelas Maret. https://jurnal.uns.ac.id/ni/article/view/38087
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi (Edisi revisi). Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2020). Kamus linguistik (Edisi Keempat). Gramedia Pustaka Utama.
Mahsun, M. (2023). Etnolinguistik: Pendekatan budaya dalam kajian bahasa. Jurnal Ilmu Budaya, 12(1), 45-56.
Mangoensong, H. R. B., & Yanuartuti, S. (2020). Analisis teknik gerak tari tradisional dengan menggunakan ilmu kinesiologi. Gelar: Jurnal Seni Budaya, 18(2), 72-77. https://doi.org/10.33153/glr.v18i2.3088
Martopangrawit. (1975). Pengetahuan karawitan I. ASKI Surakarta.
Murni, S. S., Kurnia, E. D., & Lestari, P. M. (2026). Istilah-istilah dalam tradisi Tayubiyah di Desa Wangunrejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati: Kajian semantik. Caraka: Jurnal Ilmu Kebahasaan, Kesastraan, dan Pembelajarannya, 12(2), 801-820.
Nuryati, S., & Fateah, N. (2025). Lexical meaning and cultural meaning in lingual units in Prajuritan dance art in Semarang Regency: An ethnolinguistic study. EduLite: Journal of English Education, Literature, and Culture, 10(2), 635-652. https://doi.org/10.30659/e.10.2.635-652
Parera, J. D. (2004). Teori semantik (Edisi ke-2). Erlangga.
Pateda, M. (2010). Semantik leksikal (Edisi ke-2). Rineka Cipta.
Prihantoro, E. W. (2020). Pertunjukan Tayub sebagai sarana ritual pernikahan di Karangmojo Jenar Sragen. Lakon Jurnal Pengkajian & Penciptaan Wayang, 15(2), 117-126. https://jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/lakon/article/view/3002
Rachmawati, D., Imbang, D., & Kalangi, L. M. V. (2019). Bentuk lingual dalam meme pada grup Whatsapp. Kajian Linguistik, 6(3), 1-20. https://doi.org/10.35796/kaling.6.3.2019.23657
Salima, F. Z., & Fateah, N. (2024). Kajian bentuk dan makna leksikon budi daya salak di Desa Aribaya Kabupaten Banjarnegara (Kajian morfologi). Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 17(2), 367-382. https://doi.org/10.30651/st.v17i2.21937
S., S., Munirah., & Jam'an, A. (2021). Klasifikasi bunyi leksikon di dataran tinggi dan dataran rendah Kabupaten Gowa. Aufklarung: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya, 1(1), 17-24. https://etdci.org/journal/AUFKLARUNG/index
Sibarani, R. (2004). Antropolinguistik: Antropologi linguistik, linguistik antropologi. Poda.
Subroto, E. (2011). Pengantar studi semantik dan pragmatik. Cakrawala Media.
Suharto, B. (1999). Tayub Pertunjukan dan Ritus Kesuburan. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Sulistyani, D. E., & Fateah, N. (2025). Leksikon dalam Kesenian Dolalak di Kabupaten Purworejo: Kajian semantik. Riwayat: Educational Journal of History and Humanities, 8(2). https://doi.org/10.24815/jr.v8i2.45063
Supanggah, R. (2002). Bothekan Karawitan I. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Supanggah, R. (2007). Bothekan Karawitan II. Institut Seni Indonesia.
Suryani, D. (2014). Tayub as a symbolic interaction medium in Sedekah Bumi ritual in Pati Regency. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 14(2), 97-106. https://doi.org/10.15294/harmonia.v14i2.3291
Suryanto, S., Mugijatna, M., & Susanto, S. (2019). Diskursus kearifan lokal: Bahasa seni dalam Tari Tayub di Desa Gesi Kabupaten Sragen. In Prosiding Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMANTIKS) (Vol. 1, pp. 505-510).
Tafrijiyah, K. (2024). Struktur sintaksis dan makna semantik ungkapan tradisional sebagai representasi masyarakat Jawa. Deskripsi Bahasa, 7(1), 43-58. https://jurnal.ugm.ac.id/v3/DB/article/view/11066
Utami, R. (2016). Pengantar semantik dan pragmatik. Penerbit Andi.
Verhaar, J. W. M. (1983). Pengantar linguistik. Gadjah Mada University Press.
Wahyudi, J. (2019). Pengaruh karawitan gaya Sragen pada selera masyarakat Kebakkramat. Sorai: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik. https://jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/SOR/index
Wulandari, D. (2023). Pelestarian bahasa dan budaya melalui dokumentasi leksikon tari tradisional. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 15(3), 210-225.
Yordania, B. R., & Fateah, N. (2024). Makna leksikal, makna kultural, dan kearifan lokal dalam leksikon peternakan sapi perah di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 17(2), 147-168. https://doi.org/10.30651/st.v17i2.22718
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Franshaidar Imam Nur Ichsan, Nur Fateah, Eka Yuli Astuti (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.




