Analisis Proses Pengadaan Obat melalui E-Catalogue terhadap Ketersediaan Obat di Puskesmas Tamalatea Kabupaten Jeneponto Tahun 2025
DOI:
https://doi.org/10.62710/vyz7st13Keywords:
Pengadaan obat; ketersediaan obat; pencatatan obat; e-catalogue; e-purchasingAbstract
Ketersediaan obat yang memadai merupakan penentu utama mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas, sedangkan proses pengadaan yang tidak optimal berpotensi menimbulkan kekosongan stok. Kebijakan pengadaan obat melalui katalog elektronik (e-catalogue) yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 5 Tahun 2019 dirancang untuk meningkatkan efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas pengadaan. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan berbagai kendala, termasuk di UPT Puskesmas Tamalatea Kabupaten Jeneponto yang pada tahun 2025 mengalami keterlambatan pengadaan hingga menimbulkan kekosongan beberapa jenis obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses pengadaan obat melalui e-catalogue terhadap ketersediaan obat di Puskesmas Tamalatea Kabupaten Jeneponto Tahun 2025. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan sembilan informan yang dipilih secara purposive sampling, terdiri atas satu informan kunci, dua informan utama, dan enam informan pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan metode, serta dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan proses pengadaan diawali penyusunan Rencana Kebutuhan Obat (RKO), dilanjutkan pemesanan melalui aplikasi Inaproc Versi 6, negosiasi harga dengan penyedia, penerimaan, hingga pencatatan obat. Lead time pengadaan berkisar dua hingga tiga bulan dan pada tahun 2025 mengalami keterlambatan hingga Juni akibat lamanya penyusunan RKO, pergantian akun PPK/KPA di awal tahun, keterbatasan stok sistem, produk turun tayang, serta gangguan server Inaproc. Kondisi ini menyebabkan kekosongan sejumlah obat esensial sehingga sebagian pasien membeli obat di luar Puskesmas atau menerima terapi alternatif. Dapat disimpulkan bahwa proses pengadaan obat melalui e-catalogue memiliki keterkaitan erat dengan ketersediaan obat, sehingga diperlukan perbaikan pada aspek perencanaan, koordinasi administratif, dan keandalan sistem elektronik.
Downloads
References
Abdussamad, Z. (2021). Metode penelitian kualitatif (P. Rapanna, Ed.). Syakir Media Press.
Amalia, K., Hetika, & Karunia, A. (2021). Penerapan metode FIFO pada persediaan obat di Apotek Cahaya Sehat Brebes. Politeknik Harapan Bersama Tegal.
Anggriani, Y., Rosdiana, R., & Khairani, S. (2021). Evaluasi perencanaan dan pengadaan obat di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Puskesmas Kabupaten Cianjur. Jurnal Ilmu Kefarmasian, 17(2), 425–438.
Dianingtyas, T., & Ilyas, J. (2022). Hambatan penggunaan e-catalogue dalam proses pengadaan obat di Rumah Sakit Tipe A. Jurnal Medika Hutama, 3(2), 2269–2276.
Firdaus, J., M. Syahran, J., Risnita, & Asrulla. (2023). Populasi dan sampling (kuantitatif), serta pemilihan informan kunci (kualitatif) dalam pendekatan praktis. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(3), 26320–26332.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2019 tentang Perencanaan dan Pengadaan Obat Berdasarkan Katalog Elektronik. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Laporan realisasi pengadaan obat melalui e-catalogue tahun 2024. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Management Sciences for Health. (2012). MDS-3: Managing access to medicines and health technologies. Management Sciences for Health.
Mclean, D. D. A. N. (2008). Mengukur efektivitas implementasi sistem informasi model Delone dan Mclean, 1–10.
Saptarisa, R., Nuryani, D. D., & Perdana, A. A. (2020). Evaluasi pengadaan obat secara e-purchasing berdasarkan e-katalog menggunakan dana kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional di Puskesmas Sekampung Kabupaten Lampung Timur. Jurnal Dunia Kesmas.
Syahdilla, I. F., Kurniansyah, D., & Priyanti, E. (2021). Analysis of public health center services (Puskesmas). Jurnal Ilmu Administrasi Negara, 18(4), 527–532.
Tualeka, U., Satibi, S., & Fudholi, A. (2021). Analysis of the availability of medicine in Central Maluku District Health Center. Pharmaceutics Journal, 17(3), 303–311.
Wahyono, & Djoko, I. (2025). Tinjauan naratif: Evaluasi pengelolaan obat Puskesmas di Indonesia. Jurnal Manajemen Kesehatan, 9(1), 24–37.
Widiyani, L. R., Istyastono, E. P., & Priyatni, N. (2023). Root cause analysis (RCA) of e-catalogue procurement of medicine using e-purchasing in public health center in Klaten Regency of Central Java. Jurnal Farmasi Sains dan Praktis, 9(2), 114–125.
World Health Organization. (2022). Access to medicines and health products: Progress report on essential medicines availability. World Health Organization.
Yusanto, Y. (2020). Ragam pendekatan penelitian kualitatif. Jurnal Ilmu Komunikasi, 1(1), 1–13.







