Analisa Kandungan Zat Warna Rhodamin B pada Permen Somboy menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis
DOI:
https://doi.org/10.62710/vxgm1b46Keywords:
Rhodamin B, Permen Somboy, Spektrofotometri UV-VisAbstract
Somboy adalah sejenis manisan buah yang berasal dari Cina. Manisan ini dibuat dari buah yang dikeringkan dan dilapisi dengan pewarna, tepung putih, atau warna merah untuk memberikan cita rasa khas yang manis, asam, dan asin. Pewarna yang digunakan biasanya adalah pewarna makanan, namun hal ini dapat bervariasi tergantung pada produsen yang membuatnya. Meskipun demikian, penelitian ilmiah untuk menguji hal ini masih kurang dilakukan. Pewarna makanan yang baik digunakan pada olahan jajanan harusnya adalah pewarna alami atau pewarna khusus makanan akan tetapi cukup banyak oknum masyarakat atau produsen nakal yang menambahkan pewarna sintetik kedalam olahan jajanan nya demi mendapatkan penampilan jajanan yang dilihat lebih menarik. Salah satu bahan pewarna yang disalahgunakan kedalam olahan jajanan yaitu Rhodamin B. Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang seharusnya tidak digunakan dalam makanan karena dianggap berbahaya. Sejumlah zat warna tertentu telah dinyatakan sebagai bahan berbahaya. Rhodamin B sering disalahgunakan sebagai pewarna dalam makanan dan kosmetik karena dapat menghasilkan warna merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa kadar Rhodamin B pada sampel permen somboy. Hasil analisis kualitatif didapat tiga sampel mengandung rhodamin b yaitu pada sampel SB4, SB6 dan SB 10, dengan kadar Rhodamin B pada sampel SB4 sebesar 1,0367 mg/g, sampel SB6 1,338 mg/g, sampel SB10 0,012 mg/g.
Downloads
References
Andriani, H., Rahmadani, & Audina, M. (2022). Analisis kadar Rhodamin B pada gula kapas dan arbanat dengan spektrofotometri UV-Vis di Kota Banjarmasin. Sains Medisina, 1(1), 33–41.
Cahyadi, W. (2008). Analisis dan aspek kesehatan bahan tambahan pangan (2nd ed.). Bumi Aksara.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1994). Perubahan lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 239/Menkes/Per/V/85 tentang zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan. Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Farmakope Indonesia (5th ed.). Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Djalil, A. D., Latifigana, V. F., & Ruthmoko, M. R. (2014). Perbandingan metode spektrofotometri UV dan KCKT untuk penentuan kadar tablet natrium diklofenak dalam plasma tikus Wistar jantan in vitro. Dalam Prosiding Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV. Fakultas Farmasi Universitas Andalas.
Farisiani, N. (2017). Analisis kandungan Rhodamin B dalam produk sosis daging sapi yang beredar di pasaran Kota Bandung (Skripsi, Universitas Pasundan).
Fitriani, H., & Ariyanti, F. (2016). Penggunaan zat warna Rhodamin B pada terasi berdasarkan tingkat pengetahuan dan sikap produsen terasi di Cirebon. Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan, 3(3), 13–18.
Hadriyati, A., Lestari, L., & Anggresani, L. (2021). Analisis Rhodamin B dalam bolu kukus yang beredar di Kota Jambi dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, 8(1), 16–21.
Hartika, A. (2021). Gambaran kandungan Rhodamin B pada makanan jajanan anak (Karya Tulis Ilmiah, Poltekkes Kemenkes Palembang). Repository Poltekkes Kemenkes Palembang.
Ibrahim, S. H. M., & Sitorus, M. (2013). Teknik laboratorium kimia organik. Graha Ilmu.
Mamoto, L. V., & Citraningtyas, G. (2013). Analisis Rhodamin B pada lipstik yang beredar di pasar Kota Manado. PHARMACON: Jurnal Ilmiah Farmasi, 2(2), 61–67.
Pamungkas, R. P., & Nopiyanti, V. (2018). Analisis pewarna Rhodamin B dalam arum manis secara kromatografi lapis tipis dan spektrofotometri UV-Vis di daerah Sukoharjo dan Surakarta. IJMS – Indonesian Journal on Medical Science, 5(2), 118–125.
Pujilestari, T. (2016). Review: Sumber dan pemanfaatan zat warna alam untuk keperluan industri. Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah, 32(2), 93–106.
Rembet, L. K., Abidjulu, J., & Kojong, N. S. (2017). Analisis kadar Rhodamin B pada bumbu jajanan tahu yang beredar di Kota Manado. PHARMACON: Jurnal Ilmiah Farmasi, 6(4), 82–86.
Rizuana, M. (2012). Identifikasi Rhodamin B dalam makanan jajanan dengan metode kromatografi lapis tipis dan spektrofotometer (Skripsi, Universitas Sumatera Utara). Repository Universitas Sumatera Utara.
Silalahi, J., & Rahman, F. (2011). Analisis Rhodamin B pada jajanan anak sekolah dasar di Kabupaten Labuhan Batu Selatan Sumatera Utara. Journal of the Indonesian Medical Association, 61(7), 293–298.
Suci, E. S. T. (2009). Gambaran perilaku jajanan murid sekolah dasar. Psikobuana, 1(1), 29–38.
Tjiptaningdyah, R., & Sucahyo, M. B. S. (2016). Analisis zat pewarna Rhodamin B pada jajanan yang dipasarkan di lingkungan sekolah. Agriekstensia, 16(2), 303–309.
Tjiptaningdyah, R., & Sucahyo, M. B. S. (2017). Laporan akhir penelitian DIPA: Analisis zat pewarna Rhodamin-B. Universitas Dr. Soetomo








