Management of Sanggar Intan Keratuan Darah Putih as a Local Cultural Arts Institution in Kuripan Village, South Lampung Regency

Authors

  • Mustika Wulandari Universitas Negeri Semarang Author
  • Malarsih Semarang State University Author

DOI:

https://doi.org/10.62710/r58wwc17

Keywords:

studio management, local arts and culture, non-formal education, Keratuan Darah Putih, traditional dance

Abstract

Rapid globalization and social change pose challenges to the sustainability of local arts and cultural traditions, particularly within indigenous communities that uphold ancestral values. These conditions require cultural institutions that are able to adapt while maintaining cultural continuity. Sanggar Intan Keratuan Darah Putih, located in Kuripan Village, South Lampung Regency, is a local arts and cultural institution rooted in the customary system of the Keratuan Darah Putih and plays an important role in preserving traditional Lampung dance. This study aims to describe and analyze the management of Sanggar Intan as a local arts and cultural institution. The research employs a qualitative descriptive approach, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, supported by source and technique triangulation. The findings show that Sanggar Intan is managed collectively through a community-based approach involving customary leaders, dance instructors, and the local community. Program planning and implementation align with customary preservation needs and community social dynamics, while group-based learning using demonstration and direct practice effectively transmits dance knowledge and cultural values. Sanggar Intan functions as a center for cultural preservation, a non-formal educational institution, and a medium for strengthening the cultural identity of the Keratuan Darah Putih community, despite ongoing challenges related to documentation and regeneration.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abdussamad, Z. (2021). Metode penelitian kualitatif. CV Syakir Media Press.

Andini, D. P., & Alimi, M. Y. (2025). Peran komunitas seni dalam pembentukan identitas penggiat seni pada generasi muda: Studi kasus Gambang Semarang Art Company. Santhet: Jurnal Sejarah Pendidikan dan Humaniora, 9(3), 917–929.

Anggraeni, A., & Puspytasari, H. H. (2023). Nilai-nilai tradisi dan solidaritas dalam upacara Ruwah Desa. In Prosiding Conference on Research and Community Services (Vol. 5, No. 1, pp. 445–451).

Arfi, B. F. (2017). Perlawanan Keratuan Islam Darah Putih terhadap kolonialisme Belanda di Lampung tahun 1850–1856 M. JUSPI: Jurnal Sejarah Peradaban Islam, 1(1), 87–111.

Daryanti, F. (2025). The traditional dance inheritance system of the Saibatin indigenous people in Keratuan Darah Putih as a source of cultural literacy. MUDRA: Jurnal Seni Budaya, 144–155.

Evadila, E., Safrila, D., & Kurniati, I. (2018). Interaksi edukatif dalam pembelajaran seni budaya (tari) kelas VII A di SMP Negeri 2 Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Koba: Jurnal Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik, 5(2), 39–48.

Habsary, D., Adzan, N. K., & Bulan, I. (2024). Eksistensi Tari Sigeh Penguten dalam dunia pendidikan di Bandar Lampung. Arus: Jurnal Sosial dan Humaniora, 4(1), 1–7.

Hudaepah, H. (2023). Sistem pewarisan seni tradisi Gambang Kromong pada Sanggar Seni Janaka di Depok Jawa Barat. In Prosiding ISBI Bandung.

Indraswari, R. A., Sholehah, A. P., Al Istiqomah, R. M., Achmad, D. J., Muhaimin, F. G., Pitaloka, K. A. W., & Mahanal, S. (2026). Kajian etnobotani tradisi Ruwah Rosul: Praktik ritual masyarakat Kediri sebelum upacara adat pernikahan. Biocaster: Jurnal Kajian Biologi, 6(1), 155–169.

Jazuli, M. (2016). Paradigma pendidikan seni. Farishma Indonesia.

Jazuli, M., & Paranti, L. (2022). Manajemen sanggar seni tari di Semarang. In Prosiding Widyadharma (pp. 101–107).

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.

Korina, D. N. (2014). Manajemen Sanggar Tari Lung Ayu Kabupaten Jombang. Jurnal Pendidikan Sendratasik, 2(2).

Kurnianto, A. M., Indrianti, D. T., & Ariefianto, L. (2020). Peran Sanggar Seni Pemuda Edi Peni dalam pelestarian budaya lokal di Desa Hadiluwih Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan. Learning Community: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, 3(2), 59–65.

Marisa, M. (2019). Makna dan simbol Tari Kiamat pada masyarakat Keratuan Darah Putih di Kabupaten Lampung Selatan (Disertasi doktoral). Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Meidwiarso, E. (2021). Strategi pengembangan Keratuan Darah Putih sebagai destinasi wisata budaya di Kabupaten Lampung Selatan (Disertasi doktoral). Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta.

Narawati, T., & Dyani, P. L. (2023). Nilai spiritual pada koreografi Tari Setiakh di Keratuan Darah Putih. Ringkang: Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari, 3(2), 245–253.

Nurseto, G., Lestari, W., & Hartono, H. (2015). Pembelajaran seni tari: Aktif, inovatif, dan kreatif. Catharsis, 4(2), 115–122.

Putri, B. R., Wijayanti, J., & Hanjati, B. S. (2022). Betupping: Koreografi yang terinspirasi dari kesenian Tupping di Lampung Selatan. Joged, 20(2), 179–192.

Rusmaniah, R., Nugroho, D. A., Indriyani, P. D., & Putra, M. A. H. (2022). Partisipasi perajin dalam pengembangan seni kerajinan anyaman di Kampung Purun berbasis kearifan lokal. PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, 8(1), 1–10.

Saputra, E. Y., Ariyani, F., & Mustika, I. W. (2023). Nilai-nilai pendidikan karakter pada Tari Kiamat Keratuan Darah Putih. Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan, 7(1), 1–13.

Soedarso, S. P. (2006). Trilogi seni: Penciptaan, eksistensi, dan kegunaan seni. ISI Yogyakarta.

Soedarsono, R. M. (1999). Seni pertunjukan Indonesia di era globalisasi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Sudjana, N. (2010). Dasar-dasar proses belajar mengajar. Sinar Baru Algensindo. Sugiyono. (2020). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Yulianti, N., Sya’idah, N., Desyandri, D., & Mayar, F. (2022). Pentingnya penerapan pembelajaran seni tari dalam membentuk mental siswa di kelas 3 sekolah dasar. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 4(3), 1877–1882.

Downloads

Published

2026-01-31

How to Cite

Mustika Wulandari, & Malarsih. (2026). Management of Sanggar Intan Keratuan Darah Putih as a Local Cultural Arts Institution in Kuripan Village, South Lampung Regency. Jurnal Ragam Pengabdian, 3(1 (Spesial Issue), 1384-1396. https://doi.org/10.62710/r58wwc17