Literature Review: Pengaruh Seledri (Apium Graveolens) terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi
Keywords:
Hipertensi, Seledri, Apium graveolens, Tekanan Darah, Terapi KomplementerAbstract
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Selain terapi farmakologis, berbagai terapi nonfarmakologis mulai dikembangkan, salah satunya pemanfaatan seledri (Apium graveolens) yang mengandung senyawa aktif seperti apigenin, apiin, flavonoid, ftalida, kalium, dan magnesium yang berperan sebagai vasodilator, diuretik, antioksidan, serta membantu relaksasi pembuluh darah sehingga berpotensi menurunkan tekanan darah. Mengkaji pengaruh seledri (Apium graveolens) terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menganalisis tujuh artikel penelitian nasional yang diterbitkan pada tahun 2020–2025. Artikel dipilih berdasarkan kesesuaian topik mengenai penggunaan seledri sebagai terapi komplementer pada penderita hipertensi. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan tujuan, desain penelitian, karakteristik responden, bentuk intervensi, serta hasil penelitian. Seluruh artikel menunjukkan bahwa pemberian seledri, baik dalam bentuk air rebusan, infusa, ekstrak, maupun simplisia, memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi. Mekanisme utama yang mendukung efek antihipertensi tersebut meliputi aktivitas diuretik, vasodilatasi, penghambatan enzim angiotensin-converting enzyme (ACE), peningkatan produksi nitric oxide, serta aktivitas antioksidan. Efektivitas seledri lebih optimal sebagai terapi komplementer pada hipertensi ringan hingga sedang. Seledri (Apium graveolens) terbukti berpotensi sebagai terapi nonfarmakologis komplementer yang efektif, aman, mudah diperoleh, dan ekonomis dalam membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Namun, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menentukan dosis optimal, durasi pemberian, serta standarisasi sediaan yang paling efektif.
